Manusia Berkepala Rubah

Sebuah desa yang terletak di bantaran sungai Kalidengkeng menyimpan seribu cerita tanpa bahasa. Desa itu membentuk busur panah, tek sedikit menyebar layaknya merapi meletus lebih parah dari kapal pecah, sama sekali tidak.

Sebelah barat membentang sungai Kalidengkeng dan sebelah timur anak sungai Kalidengkeng. Tak kalah andil rawa-rawa sawah yang terkenal mafia tanah menjdi ladang penghasilan utama para petani amatir.

"Kenapa mereka mendapat gelar amatir", waktu tak kenal musim, tiada hari tak kenal waktu hingga Adzan Maghrib terkadang masih di ladang. Jika di bilang serakah sebagian tetangga, Silaturahim akan terputus hingga anak cucu mendatang, itulah para penggila ladang sawah amatir, hanya sebagian tumbuh petani tulen jika terhitung hanya segelintir berapa orang.

Sakralnya, semestinya anak seharusnya menganyam masa depan dengan bekal pendidikan mampu memberikan peluang mencari ilmu tentang kehidupan di luar. Akan tetapi tidak semanis biji Mahoni, terseret ombak waktunya seakan lenyap untuk membantu orang tuanya keladang. Hanya orang tua konyol dan tergolong primitive pura-pura profesional satu di antaranya juga masih ada tanpa memberi suport anaknya untuk sukses dengn jalan berbeda.

Baca juga : Jangan pernah janji dengan orang yang sudah meninggal

Mancung, tampan di zaman peradabanya Seperti hidung petruk. Tumpul dan tersohor sang Kyai Bodronoyo di zaman pewayangan, Sungai itu terkenal Julukan Bokong Semar pada Timur Laut tepat pada Coordinate lintang selatan bujur timur Desa Kedungjambal.

https://www.mysomer.com/2019/07/manusia-berkepala-rubah.html
Lokasi tempat bertemunya manusia berkepala Rubah

Di sanalah aset terbesar pendapatan Desa dan aset para pemimpin bijaksana mendapat bagian dari perjanjian jabatan tanpa di ganggu gugat jika masa jabatan belum kadarluarsa. Sederetan ladang paling timur adalah bagian jabatan terendah. Arah bulan terbenam jatah jabatan paling tinggi dengan masa jabatan berpereode.

" walah le, saya kira kamu kemarin sore, aku ajak pulang kok diam saja". Ujar sang kakek petani amatir.

" kapan mbah? " tanya seorang anak perangkat desa itu sebagai tetangga ladang sawah yang ia garap.

" lhoo.. Makanya itu, aku sapa diam saja. Biasnya kan kamu, kalu tidak ya bapak kamu. Kamu bukan, bapak kamu juga bukan. Pompa air masih nyala ". Jelas kakek.

" bukan saya mbah, kemarin sekolah sampe malam, mungkin bapak mbah". Sautnya.

" Pas adzan maghrib, aku sapa ajak pulang diam. Setiap aku mendekat malah mundur, giliran aku maju aku tengok ia malah maju mengikutiku. Ya... Aku kaget, samar-samar kepalnya mirip anjing Le.. Le..., aku langsung buru-buru pulang ". Jelas sang kakek denga serius.

" wah...!! Ngeri itu mbah ".

" Baru liat kali ini juga le.. ".

Manusia berkepala Serigala sudah terdengar cerita di era tahun 90-an di timur desa itu. Konon seseorang warga pribumi setempat pernah di temui di lokasi yang berbeda, hanya satu kilometer arah selatan dari lokasi yang masih satu aliran anak sungai bengawan.

Baca juga : Nikmat sesaat sengsara seumur hidup

Sejarah dari cerita manusia berkepala Serigala masih menyimpan misteri kedatangannya, cerita sejak tahun 90 an silam terulalang kembali. Konon Manusia serigala itu datang dari gunung sebelah timur yang amat sakral banyak orang bilang, terknal dan tersohor dengan julukan dari orang jawa memberi nama "Randu Alas" Pohon Besar serta tumbuh subur di tengah makam.

Kini, pohon itu lenyap tak tersisa lantaran terkenal Angker dan Sakral. Di setiap bulan entah tahun, kemenyan dan bunga-bunga bertaburan di sekeliling Pohon besar itu, hanya kaum Primitive masih menjalankan hal semacam Sesaji.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »